Kalbar 

KOMMUN (KOMUNITAS MUDA NUKLIR NASIONAL ) Salah Satu Wadah Untuk Membuka Paradikma Pikiran

Pontianak,PH – Opini

Rahayu Wulandari
Nim D1061151008
Fakultas Teknik, Prodi Teknik Industri, Universitas Tanjungpura

Perencanaan secara serius terhadap pembangunan PLTN telah digencarkan sejak awal tahun 1970 dengan dibentuknya Komisi Persiapan Pembangunan (KP2PLTN), yang dimana tugas dari komisi ini adalah melakukan kajian tentang hal – hal yang berkaitan dengan kemungkinan pembangunan PLTN di Indonesai.

“ Sekarang kita telah masuk pada the era of atomatic energy” , isi dari pidato Ir. Soekarno pada peletakan batu pertama pembangunan reaktor riset bandung, 9 april 1961.

Sejak dulu founding father , yang merupakan julukan yang diberikan kepada presiden pertama RI ini , telah memiliki visi yang jauh kedepan, yakni tentang penggunaan energi nuklir untuk kesejahteraan masyarakat dan harapanya agar Indonesia bisa diakui dunia Internasionl dalam bidang Iptek.

Adanya krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997 yang diikuti dengan krisis politik, mengakibatkan Indonesia mengalami keterpurukan dari berbagai sektor kehidupan, termaksud sektor kelistrikan.

Setelah terjadinya krisis moneter, anehnya permintaan terhadap listrik kembali meningkat secara drastis. Untuk memenuhi kebutuhan listrik, khususnya di daerah Kalimantan Barat , Indonesia harus melakukan Impor listrik dari malaysia.

Impor selalu dijadikan salah satu senjata dan solusi yang jitu oleh pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan nasional dengan dalih untuk mencukupi stok dan kebutuhan dalam negeri.

Bahkan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengeluarkan kebijakan mengenai impor listrik. Jika impor terus menerus dilakukan, pada akhirnya Indonesia tidak bisa menjadi negara mandiri, karena masih ketergantungan terhadap negara tetangga.

Hasil studi yang ada menyimpulkan bahwa dari cadangan sumber energi bahan fosil tidak mampu mencukupi kebutuhan listrik secara nasional hingga tahun 2025.

Hal ini didukung dengan adanya peraturan pemerintah Nomer 5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional (KEN) dan undang – undang nomer 17 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP).

Dalam perpres nomer 5 tahun 2006 ditetapkan bahwa untuk memenuhi kebutuah listrik hingga tahun 2025 dibutuhkan sumber energi baru dan terbarukan (EBT) dengan masing – masing besarnya boefeul di atas 5%, panas bumi di atas 5%, nuklir, surya, angin, dan bimassa di atas 5% dan batubara yang dicairkan diatas 2% (sumber :www.batan.go.id).

Disisi lain tuntutan dunia internasional menginginkan udara yang lebih bersih dan sehat dalam dunia industri. Kenyataan dilapangan, Indonesia masih banyak melakukan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap dan PLTD yang mengakibatkan terjadinya polusi terhadap udara.

Solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang ada, maka sudah sepatutnya Indonesia merealisasikan pembangunan PLTN .

Mengapa PLTN ??? karena Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam berupa uranium, hasil dari eksplorasi yang telah dilakukan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bahwa Indonesia memiliki 70.000 ton uranium yang tersebar di beberapa Provinsi diantaranya, Kalimantan Barat , Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kabupaten Mamuju , Provinsi Sulawesi Barat, Sibolga Sumatera Utara, dan Biak Papua.

Kalimantan Barat dengan luas wilayah 147,304 Km2 (Sumber : Dokumen RPJMD Provinsi Kalimantan Barat) menjadi salah satu daerah penyumbang uranium terbesar dengan total 25.000 ton , yang terdapat di Kabupaten Melawi daerah Kalan .

Uranium merupakan bahan bakar utama pembangkit PLTN. Dengan melimpahnya uranium di daerah ini maka Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi yang berpotensi untuk dibangunnya PLTN, untuk menjadi negara maju dan mandiri maka diperlukannya pemanfaatan terhadap sumber daya alam secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tanpa harus ketergantungan terhadap negara tetangga.

“Sudah selayaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dibangun di Kalimantan Barat , mengingat bahwa melimpahnya sumber bahan baku berupa uranium di daerah ini ”, ujar Ketua DPR RI Oesman Sapta di Kantor Gubernur Kalimantan Barat , Kamis (13/12) .

Sesuai dengan studi kelayakan Introduksi PLTN Indonesia yang berkerjasama dengan konsultan New JEC. Inc dari Jepang pada tahun 1991 – 1996 , pemilihan lokasi PLTN ditinjau dari beberapa aspek diantaranya peniliaan kelistrikan, prasarana transportasi, tersediaanya air, kegempaan , geologi, hidrologi, kependudukan dan lain – lain.

Hasil dari penelitiaan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto yang dimana, Kalimantan Barat memenuhi kriteria untuk dilakukannya pembangunan PLTN , karena merupakan daerah bebas gempa.

Tidak hanya itu , mengingat dalam desain dan pembangunan PLTN perlu diperhatikannya komponen limbah yang ada kaitannya dengan aliran sungai, dan Kalimantan Barat dapat memenuhi persyaratan tersebut, karena Kalimantan Barat memiliki icon unggulan berupa sungai kapuas, yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang sungai mencapai 1.143 km2.

Jika ditinjau dari safety adanya pembangunan PLTN, Kalimantan Barat juga memenuhi kriteria, karena jumlah populasi penduduk per luas wilayah yang relatif kecil, sehingga memiliki dampak nuklir yang cukup kecil apabila terjadi kecekalaan yang tidak terduga.

Telah dilakukannya pertemuan membahas Pembangunan PLTN di Kantor Gubernur, Kamis 18 Desember 2018 dengan dihadiri oleh Gubernur Sutarmidji, Ketua DPR RI Oesman Sapta, Sekjen DPD RI Reydonnyzar Moenek, Staf Ahli Menristek dan Pendidikan Bidang Relevansi dan Produktivitas Agus Puji Prasetyoni, Ketua Kelompok Kerja Bidang Energi SDM Zulnahat Umar, Kepata BATAN Djarot Sulistio, Bupati Kubu Raya Rusman Ali, dan Dekan Fakultas Teknik Bapak Rustamaji.

Salah satu dukungan nyata yang telah diberikan oleh DPR RI terhadap pembangunan PLTN di KALBAR, yakni DPR RI telah menjembatani dan memediasi pertemuan antara Para Duta Besar negara sahabat dengan Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji yang dimana dilakukannya Regional Diplomatic Meeting (RDM) 2018, di Bali dengan membicarakan pengembangan investasi untuk pembangunan PLTN di Kalimantan Barat.

Untuk merealisasikan dan menyukseskan pembangunan PLTN di Kalimantan Barat aspek wilayah, dan keunggulan yang dimiliki oleh suatu daerah serta dukungan dari pemerintah tidak lah cukup.

Perlu adanya peran singkronisasi dan harmonisasi dari semua pihak, terutama peran dari pemuda, “ karena pemuda adalah ujung tombak perubahan bangsa”, ucap Kepala Deputi BATAN Bid. Teknologi Energi .

Pemuda sejak dulu telah memiliki peran yang penting dalam pembangunan dan perubahan suatu bangsa, dengan adanya peristiwa sumpah pemuda yang terjadi pada tahun 1928 , yang dimana menjadi tonggak sejarah pergerakan pemuda di seluruh Indonesia dalam mewujudkan pembangunan bangsa.

Di era revolusi industri 4.0 dan zaman milenial ini sudah seharusnya pemuda ambil peran menjadi Agen Of Change dan Agen Of Development untuk bangsa dan daerah.

Kommun adalah solusi yang tepat untuk pemuda yang ingin turut andil dalam pambangunan PLTN di Indonesia, karena Kommun (Komunitas Muda Nuklir Nasional) adalah komunitas yang memiliki kerangaka kerja mewadahi aspirasi para pemuda yang peduli dalam memanfaatkan IPTEK nuklir berskala nasional dan sebagai wadah dalam pengembangan sosialisasi IPTEK nuklir tepat guna bagi seluruh elemen masyarakat di Indonesia.

Kommun berdiri sejak tanggal 11 Februari 2013 dengan berasaskan Pancasila, UUD 1945, UU Pemuda dan UU mengenai IPTEK Nuklir . Awalnya kommun hanya terdiri dari 10 wilayah, hingga pada masa periode yang dipimpin oleh Arief Rahman Hakim mahasiswa Teknik Nuklir UGM sebagai ketua umum, kommun melakukan annual meeting (AM 2018) sehingga diresmikannya Kommun untuk wilayah Kalimantan Barat dengan Kordinator Wilayah terpilih Puji Suwanto yang merupakan mahasiswa Teknik Elektro, Universitas Tanjungpura.

Dengan terbentuknya kommun di Kalimantan Barat, maka lengkap sudah elemen – elemen pendukung untuk segera merealisasikan adanya pembangunan PLTN di Kalimantan Barat. Hadirnya Kommun di Kalimantan Barat diharapkan dapat meningkatkan minat pemuda untuk menguasai bidang teknologi nuklir dan menyadarkan pentingnya peran pemuda dalam membantu mewujudkan pembangunan PLTN di daerah .

“Untuk menjadi bangsa yang besar, Indonesia harus menguasai nuklir dan antariksa” – Ir. Soerkarno
Dalam rekam jejaknya, pemuda merupakan pelopor, pelatuk, dan pengawal dalam perubahaan bangsa. Sudah sepatutnya pemuda tidak hanya berpangku tangan dan menunggu intruksi dari pemerintah untuk sama – sama berperan dalam pembangunan daerah.

Jadilah pemuda milenial yang aktif yang dapat berkontribusi terhadap pembangunan daerah dan bangsa, kontribusi yang dibicarakan bukanlah kontribusi mengenai uang ataupun kekayaan.

Tapi, kontribusi yang dimaksud adalah ide, pola pikir, inovasi , dan kreativitas yang dapat dituangkan dalam suatu aksi dan bukti nyata, yang nantinya hasil dari itu semua bisa dirasakan oleh re- generasi selanjutnya.

Kontribusi dan peran kommun dalam membantu merealisasikan pembangunan PLTN di Kalimantan Barat salah satunya “ membantu sosialisasi dan pengenalan iptek nuklir di kalangan pemuda melalui diskusi offline dan onlien, serta memberikan bukti nyata kepada masyarakat bahwa iptek nuklir aman, dengan melakukan penanaman padi hasil iradasi” , ujar Puji Suwanto, Koordinator Wilayah Kommun Kalimantan Barat.

Diharapkan dengan adanya sosialisasi dan bukti nyata yang telah diberikan oleh kommun, dapat membuka pikiran masyarakat awam akan pentingnya pembangunan PLTN, bahwa pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah semata – mata hanya untuk memenuhi kebutuhan dari masyarakat itu sendiri dan untuk memajukan daerah melalui pemafaatan kekayaan sumber daya alam lokal yang dimilik, tanpa harus mengimpor dari negara tetangga.

Kommun juga membantu pemerintah untuk menghilangkan paradigma ketakutan masyarakat tentang bahanya pembangunan PLTN bagi kehidupan. Terbukanya pola pikir masyarakat terhadap pentingnya pembangunan PLTN, maka dapat memudahkan pemerintah dalam melakukan pembangunan PLTN di Kalimantan Barat.

Selain itu kommun juga membantu pemerintah untuk menyiapkan generasi milenial yang berintelektual dan siap berkontribusi dengan mengaplikasikan ilmu yang telah didapat di bangku kuliah untuk kemajuan dan keberlangsungan pembangunan PLTN.

Jadilah pemuda milenial yang dapat berperan sebagai aktor bukan penonton, karena dengan menjadi aktor pemuda dapat mengetahui secara langsung tentang permasalahaan yang terjadi di lapangan, dan dapat turut andil menyelesaikan permasalahaan tersebut. Kemajuan suatu daerah sering dikaitkan dengan bagaimana peran pemuda di dalamnya untuk memajukan daerah tersebut.

Seperti yang diungkapkan oleh Azij, salah satu anggota Kommun Wilayah Kalimantan Barat “ingin berperan dalam membantu pemerintah untuk mewujudkan PLTN di Kalimantan Barat, dengan mengaplikasikan ilmu yang telah saya dapatkan di bangku kuliah”

Jangan tanyakan apa yang telah negara dan bangsa ini berikan kepada kita, tapi tanyakan apa yang telah kita lakukan sebagai pemuda untuk kemajuan bangsa dan negara.

(dra)

Artikel Terkait

Leave a Comment